Sejak
Joko Widodo berkampanye untuk menjadi presiden, suhu di jagat social media
terutama Facebook dan Twitter, memanas. Terjadi perang kata-kata yang bukan
sekedar opini. Lontaran-lontaran Hoax hingga saling mendiskreditkan diantara
para pendukung dan kontra Jokowi. Bahkan hingga dua tahun lebih beliau terpilih
menjadi presiden, kondisi seperti itu masih terus berlangsung. Suhu
pertentangan makin meningkat saat Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok mencalonkan
diri menjadi gubernur DKI Jakarta. Gelombang-gelombang demontrasi terjadi.
Satu
hal yang saya amati, para penolak Ahok adalah sekaligus para penolak Jokowi.
Begitupun sebaliknya, para pembenci Jokowi biasanya sepaket membenci Ahok juga.
Dan saya melihat melalui postingan –
postingan mereka di social media, mereka konsisten dengan perasaan
ketidaksukaannya.
Cukup membahas Jokowi dan Ahok. Saya akan fokus pada perasaan BENCI.
Cukup membahas Jokowi dan Ahok. Saya akan fokus pada perasaan BENCI.
Dulu,
karena beberapa alasan, saya merasa pantas membenci seseorang. Bertahun-tahun.
Lalu, apa yang saya dapatkan selama bertahun-tahun itu?
Awalnya
saya merasa superior karena mempertontonkan kebencian padanya. Tapi ternyata
orang lain malah memiliki penilaian negatip terhadap saya.
Bagaimana
tidak menjadikan perilaku negatip bagi saya, jika setiap mendengar ada
seseorang menyebut namanya, saya akan memalingkan muka dan mencibir. Jika ada
yang menyebut kebaikannya, saya langsung mementahkan sambil menjelek-jelekkannya.
Jika tak sengaja bertemu dengannya, saya akan menghindar. Jika ia mencoba
berbicara dengan saya maka saya merasa pantas menumpahkan caci-maki padanya.
Begitu
dasyat akibat kebencian saya pada orang tersebut, karena menyebabkan kerusakan
pada saya sendiri. Saya menumpuk tambahan dosa.
Dosa
harian yang tidak sengaja saya perbuat karena kelalaian saja, sudah
bertumpuk-tumpuk. Lalu saya tambahi dosa perbuatan buruk saya atas nama
kebencian.
Please,
jangan tiru keburukan saya dulu ini. Jangan saling membenci. Karena kalau
kebencian personal efeknya ke diri sendiri. Tapi jika kebencian komunal,
akibatnya perang yang akan terjadi. Perang antar suku. Perang antar kelompok.
Perang antar agama.
Naudzubillah
min dzalik. Karena dalam perang, kita semua yang rugi
0 komentar:
Post a Comment