Wednesday, January 25, 2012

If Tomorrow Never Comes

Siang ini dalam perjalanan menuju tempat menuntut ilmu, di dalam shuttle bus yang saya tumpangi, terdengar lagu dari speaker Pak Sopir , yang penggalan liriknya diantaranya seperti ini;

’cause I’ve lost love once in my life,
who never knew how much I loved them
Now I live with the regret that my true feelings for them,
never were revealed.
If Tomorrow Never Comes,

Penggalan syair itu seolah menampar saya. Betapa alasan “sibuk” sering membuat saya mengabaikan orang-orang terdekat, Keterbatasan waktu menjadi sebab saya menjadi tidak sabaran dan emosi menjadi tidak terkendali.

Saya bekerja keras dengan tujuan agar bisa menghasilkan uang , sehingga anak-anak bisa bersekolah dan terpenuhi kebutuhan lainnya. Namun, saya sering melupakan betapa dalam masa pertumbuhan kebutuhan utama mereka adalah kasih sayang dan teladan yang baik
Seringkali dengan alasan terburu-buru, seolah memberikan saya pengesahan untuk menghardik dan membentak mereka saat mereka menghampiri meminta sedikit perhatian dari Bundanya.
If tomorrow never comes, akankan anak-anak saya mengingat kalimat terakhir yang saya ucapkan kepada mereka adalah hardikan. Andaikan saya mau bersabar sedikit….


Saat saya kecil, Bunda adalah orang terdekat saya, tak ingin sedetikpun saya berpisah darinya. Bahkan saat ia mandipun saya akan menjerit-jerit mencari dan memanggilnya. Bunda adalah orang pertama yang saya cari untuk mengadu ketika teman-teman menjahili saya. Bunda pula menjadi orang tersibuk ketika saya menikah dan ikut sibuk mengurus bayi sementara saya masih memulihkan diri setelah melahirkan anak pertama.
Namun, kesibukan mengurus pekerjaan dan anak-anak seolah melegalkan alasan atas kemalasan saya melakukan perjalanan ke kampong halaman untuk menjenguknya.
If tomorrow never comes, betapa menyesalnya saya, karena terakhir kali saya mencium tangannya adalah lebaran tahun lalu.

Ritual saya ketika keluar rumah adalah ;menyalakan mesin mobil, buka pintu pagar, mengeluarkan mobil dari carport, tutup pintu pagar lalu melaju.. Begitupun sebaliknya ketika tiba di rumah. Jika disela-sela ritual tersebut berpapasan dengan tetangga, saya hanya melempar senyum dan mengangguk. Tanpa sepotongpun sapaan terucap kepadanya.
If tomorrow never comes, apakah saya dikenal sebagai tetangga yang baik ? atau jangan-jangan karena keiritan saya bertegur sapa maka saya dianggap seorang yang angkuh? Lalu jika mereka sebal dengan saya, siapakah yang akan sudi bertakziah dan menggotong keranda saya?

Hari demi hari, saya sibuk mengejar kejayaan dan kebanggaan diri. Sementara usia bertambah dan waktu keberadaan saya didunia ini semakin berkurang. Lagi-lagi karena alasan sibuk , saya merasa cukup dengan menjalankan ibadah hanya yang wajib-wajib saja. Kesibukan mengejar yang saya inginkan menyebabkan saya sering lupa bersyukur atas apa yang saya punya.
If tomorrow never comes, cukupkah bekal akhirat saya?

0 komentar:

Post a Comment

 
;