Film yang disutradarai M.T Risyaf pada tahun 1987 ini di remake oleh Deddy Mizwar dengan judul sama dan sebagian besar aktris pendukung yang sama juga.Film yang ini menggunakan teknik mixing antara film versi jadulnya dengan versi sekarang, terutama untuk scene beberapa pemain yang sudah almarhum, seperti Emak (Roldiah Matulessy)
Dengan setting tahun 1945, dimana pada saat itu pasukan Jepang telah mundur dan tentara Belanda kembali berusaha masuk ke Indonesia. Dikisahkanlah kehidupan Nagabonar (Deddy Mizwar), si tukang copet ulung , dan sahabat setianya Bujang (Afrizal Anoda). Saking setianya, setiap kali Nagabonar tertangkap dan masuk penjara, si Bujang ikutan masuk penjara meskipun nggak ikut nyopet. Katanya sih biar bisa makan teratur dengan gratis.Sekeluarnya mereka dari penjara, mereka mendengar dari Bang Pohan (Piet Pagau) bahwa Indonesia sudah merdeka, lalu Belanda berusaha merebut negeri ini kembali, Naga dan teman2nya ikut angkat senjata untuk melawan Belanda. Naga bahkan akhirnya memimpin pasukan sendiri dan melakukan perang gerilya melawan Belanda.Hingga satu saat Nagabonar dan pasukannya mendapat perintah mundur dari Bang Pohan. Tidak lagi menyerang Belanda karena perjanjian gencatan senjata telah disepakati. Maka mereka pun mundur dan menetap di satu tempat untuk beberapa saat. Dalam rombongan mereka termasuk juga Emaknya Nagabonar (Roldiah Matulessy) yang tetap menganggap Naga bekerja sebagai pencopet, lalu ada juga seorang ‘tawanan’ Kirana (Nurul Arifin) putri dokter Zulmi (Kaharuddin Syah) yang dituduh antek Belanda.Belanda mengajak Nagabonar merundingkan garis demarkasi. Sebelum perundingan, demi harga diri, Nagabonar dan teman2nya memutuskan untuk memberikan pangkat kemiliteran kepada diri mereka masing2. Atas usulan Lukman (Wawan Wanisar) yang paling terpelajar, Nagabonar menjadi jendral, Murad (Mustafa) dapat kolonel, Jono letnan kolonel, Lukman sendiri menjadi mayor. Lukman yang rada sentimen sama Bujang hanya memberikan pangkat kopral untuk Bujang. Bujang pun protes keras. Tapi Nagabonar tak mampu memprotes keputusan Lukman karena tahu ia tak akan bisa mendebat Lukman.Dalam perundingan dengan Belanda, Nagabonar tidak mau menunjukkan lokasi pasukannya karena ia tahu akal licik Belanda. Yang terjadi malah Naga sempat2nya mencopet jam tangan si mayor Belanda yang kemudian ia hadiahkan untuk Bujang. Agar Bujang terhibur : meskipun pangkatnya cuma kopral tapi jam tangannya Mayor.Nagabonar diam-diam naksir Kirana. Dengan bantuan Bujang ia berusaha mendekati Kirana. Mariam, pencopet lain yang juga punya pasukan, ternyata juga naksir Kirana. Mariam dan pasukannya datang ke tempat Naga, bersenjata lengkap, meminta Kirana. Naga mengajaknya bertanding catur untuk menentukan siapa yang berhak atas Kirana. Dengan sedikit curang, Naga menang, Mariam nggak terima. Tembak-menembak antar teman pun terjadi. Mariam tertembak kakinya dan menyerah, merelakan Kirana untuk Nagabonar.Naga terserempet peluru di lengannya. Kirana yang anak dokter merawat luka Naga. Dan mulailah benih2 kasih bertebaran.Sementara itu si Bujang merasa sangat kesal sama Lukman, karena dia dianggap bawahan yang disuruh2 melulu oleh Lukman. Bujang bertekad untuk membuktikan siapa yang lebih hebat. Hingga satu pagi Naga kehilangan satu set seragamnya lengkap dengan tanda pangkat, tongkat, dan topi bulunya. Murad melaporkan bahwa Bujang pada waktu subuh telah nekat membawa pasukan untuk menyerang Belanda.Dan siang harinya… pasukan itu kembali dengan membawa si Bujang yang telah terkulai tak bernyawa di atas kuda. Bujang mengenakan seragam dan semua atribut milik Nagabonar. Nagabonar tak mampu berkata apa-apa. Dia lari pulang, menangis dan meneriakkan nama Bujang berulang-ulang. Saat penguburan Bujang, Naga mengenakan seragamnya yang berlumuran darah si Bujang. Dalam kesedihan kehilangan Bujang teman baiknya, Naga mengunjungi Kirana lagi. Naga curhat ke Kirana kalau ia merasa kesepian dan sendirian. Kirana menghiburnya dengan mengatakan kalau Naga tidak sendirian. “Masih ada aku…”, kata Kirana… Besoknya Naga meminta emaknya untuk melamar Kirana. Tapi emaknya malah menasehati Kirana agar tidak percaya sama kata2 Naga….Belanda akhirnya melanggar sendiri perjanjian gencatan senjata. Naga pun segera menyiapkan pasukan untuk kembali menyerang Belanda. Kirana bilang kalau dia ingin ikut bertempur di garis depan bersama Naga. Nagabonarpun menyetujui, dan memberi Kirana pangkat Permaisuri!
Comment gw :
1. Very-very recommended...secara lucu banget neh film. Sampe Mei ini kayaknya baru 1 film Indonesia ini yg gw rekomen.
2. Tempelan antara film Jadulnya dan Film versi sekarang alus banget meskipun tetep aja ada "cacat"nya. Yang gw liat jelas sih pada saat Emak ngobrol ama Kirana soal lamaran Naga, keliatan kalo arah muka emak dan Kirana ngga segaris.
3. Koq ada adegan cowok mandi telanjang seh... keliatan jelas banget. Emang perlu? Kenapa ngga diilangin aja ya?
4. Kekuatan film ini , selain dari dialog2 yang lucu, tentu saja dari akting pendukungnya yang TOB (Secara Deddy Mizwar, Wawan Wanisar, Piet Pagau ama Afrizal Anoda yang emang besar di teater)
5. Tentu saja yang patut dipuji juga adalah Make Up Artisnya, meskipun keliatan beda "umur muka" pemain2 pada film Jadulnya dan versi sekarang, tapi tetep keliatan jauh lebih muda dari aslinya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment